April 2017

Perilaku Menyontek Merupakan Benih Korupsi


Menyontek
gambar Ilustrasi menyontek
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Pustaka Pheonix, 2009), menyontek berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, menocoh, menggocoh yang artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak. Menurut Webster’s New Universal Unabridged Dictionary (Schmelkin, 2008) menyontek diartikan sebagai perilaku yang menipu yaitu dengan dengan kecurangan.

Menurut Eric, dkk (Hartanto, 2012), menyontek berarti upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.

Taylor dan  Carol (Hartanto, 2012) menyontek didefinisikan sebagai mengikuti ujian dengan melalui jalan yang tidak jujur, menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak semestinya, melanggar aturan dalam ujian atau kesepakatan.

Menurut Ronney dan Steinbach (Barzegar dan Khezin, 2011) menyontek didefinisikan sebagai menggunakan cara apapun untuk mendapatkan sesuatu yang tidak adil, yang termasuk berbohong, menutupi kebenaran, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan.

Pengertian lain menurut pendapat Wilkinson (Barzegar dan Khezin, 2011), menyontek adalah menyalin dari siswa lain selama ujian, salah satu dari perbuatan yang tidak baik yang menjadi salah satu dari masalah yang serius dalam institusi pendidikan.
[ads-post]
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian perilaku menyontek adalah kecurangan yang dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan cara yang tidak halal seperti membuka catatan, bertanya kepada teman, ataupun melihat langsung jawaban dari internet, dan perilaku lainnya yang tidak dibenarkan untuk dilakukan karena tidak hanya merugikan bagi orang lain, tetapi juga sangat merugikan dirinya sendiri sebagai pelaku sontek.

Diambil dari laman Kajian pustaka dan blog Kumpulan Artikel, Kalian tentunya pernah melihat sebuah iklan di televisi yang kejadiannya kurang lebih begini:
Hai bud ini kertasnya” Rudi berbisik sambil melemparkan sebuah kertas lucek yang diremas. Lalu budi menggambilnya dan menuliskan sesuatu dikertas itu dan mengembalikannya pada Rudi. Ternyata di kertas itu Budi menuliskan : “Mau pintar?? Makanya belajar”
Dan Akhirnya Rudi pun ketahuan guru yang mengawasi jalannya ujian, Rudi pun hanya bias cengar-cengir.

Ngepek, nyontek, nurun, dan sebutan lainnya adalah telah kita pahami bersama, bahwa hal itu adalah melakukan kecurangan saat ujian atau ulangan. Caranya macam-macam, mulai dari menulis kunci jawaban di kertas, meja, bangku, HP, atau yang parah adalah menulis di anggota badan, entah itu di daerah kaki, tangan, tau daerah perut lalu mebukaknya saat ujian berlangsung, bekerja sama dengan teman, atau yang lebih hebat adalah membuka buku saat pelaksanaan ulangan (kecuali kalau ulanagnnya bersifat open book). Dan saya yakin, saya pernah melakukannya, baik waktu masih di SD, SMP, SMA, atau sampai kuliah saat ini. Mudah-mudahan kalian tidak.

Ada baiknya kalau saya boleh bertanya kepada kalian semua, kira-kira apa sih yang sedang banyak-banyak terjadi di Negara Indonesia tercinta kita ini dan membudidaya dan mungkin dilestarikan oleh orang Indonesia, baik dari golongan pemerintahan atau sampai tukang tambal ban sekalipun itu??

Kalau kalian menjawab KORUPSI, saya yakin 99% jawaban kalian bener. Dan ketika saya mengajak kalian untuk membahas dampak dari korupsi, maka kita sudah hapal di luar kepala. Mulai dari kelaparan, kekeringan, putus sekolah, dan sebagainya, mungkin lebih parah lagi kematian. Tapi kalau saya ajak mikir kenapa hati nurani mereka bisa tertutup alias membatu ketika melakukan perbuatan haram yang disebut korupsi tersebut. 


Padahal sebenarnya dalam diri manusia ada organ tubuh yang bernama hati yang tidak pernah berdusta sekalipun. Saya ambil contoh, ketika ada orang yang meminta-minta dijalan, apa suara hati kita? Pada saat itu suara hati yang timbul dalam hati nurani kita adalah kasihan dan ingin membantunya supaya beban hidupnya tidak seberat itu. Tapi suatu saat ada semacam penutup hati yang menyebabkan hati yang jujur tersebut tidak mampu kita dengar. Penutup itulah yang disebut EGO.

Lalu apa sebabnya perbuatan itu masih saja terjadi di negara tercinta kita, karena belum disadari bahwa korupsi adalah perbuatan yang merugikan. Sesungguhnya itu adalah disebabkan adanya kebiasan buruk yang terus diulang-ulang dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. 


Karena keburukan itu diulang-ulang, akhirnya menjadi kebiasaan yang dianggap baik. Satu contohnya adalah, ketika anak kecil melihat adegan pegangan tangan atau ciuman di televisi, lalu karena perbuatan itu diulang-ulang dan orang tua mereka tidak pernah mengawasinya dan melakukan koreksi atas perbuatan buruk yang dilihat oleh buah hatinya, maka sampai dewasa sekalipun ia akan ,menganggap bahwa ciuman atau pegangan tangan dengan laiki-laki tau perempuan yang bukan muhrimnya adalah bukan perbuatan tercela dan berdosa.

So, sebenarnya ada hubungan apa sih sama diri kita??
Kalau ada pertanyaan, sebenarnya sama tidak sih KORUPSI dengan MENYONTEK?

KORUPSI = MENYONTEK?
Rasanya saya tidak perlu bahas lagi contoh-contoh budaya ketidak jujuran ini, mulai dari menyontek yang dilakukan berjama’ah antara murid dengan murid dan dengan gurunya, guru yang ketahuan mencuri soal UAN, praktek jual beli ijazah, dan kawan-kawannya.

Jadi sudah jelas bahwa penyebab korupsi marak terjadi di Indonesia adalah karena bibit-bibit puntra-putrinya saja telah melakukan tindakan korupsi kecil-kecilan yang disebut nyontek itu sejak dari bangku sekolah. (gimana kalau sudah sukses??).

Saya yakin semua agama tidak ada yang menganjurkan untuk melakukan hal yang positif dengan menghalalkan segala cara. Kesuksesan adalah dimana kita menyadari kekurangan diri kita dan mengoreksinya agar suatu ketika bila kita menghadapi masalah yang sama dapat mengatasinya denga baik. Ingat!!! Bukan menutupi kekurangan kita dengan kebobrokan orang lain. Yakinlah dengan kemampuan diri kita. Kita bisa.. Kita bisa…

“..Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS Ar-Ra’d ayat 11)

“Kesuksesan itu tidak dilihat dari beberapa kali mereka mendapat kegagalan, tapi dilihat dari berapa kali ia bangkit dari kegagalan” (Abu Bakar RA)

“Jujur adalah mata uang yang berlaku dimana-mana” (Pepatah)

“Mau pintar??. Makanya belajar”(Iklan Suplemen)


sumber artikel */
> Blog Kumpulan Artikel
> Laman Web Kajian Pustaka

Video Menarik untuk ditonton


10 Cara Menghadapi Siswa yang Nakal dan Sering Bolos Sekolah


Prilaku menyimpang anak ( sumber foto : soalremaja.com )
Anak adalah bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumber daya manusia yang merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus memerlukan pembinaan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, sosial secara utuh, serasi, selaras dan seimbang.

Sebagai insan yang berada di sebuah lembaga pendidikan, apalagi Sekolah Menegah Kejuruan yang notabene siswanya adalah laki-laki menghadapi siswa “nakal” adalah hal yang biasa. Mulai dari siswa yang sering terlambat atau bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas/ PR, ribut di kelas, jajan saat jam pelajaran, tidak sholat, dan masih banyak contoh “kenakalan” lain yang kerap dilakukan siswa. Hal-hal tersebut memang benar-benar menguji kesabaran kita. Dibutuhkan kesabaran dan keuletan tingkat tinggi.

Sebenarnya apakah benar ada anak diberi label “nakal”? Penulis sendiri tidak setuju bila ada siswa yang dilabeli “nakal”. Apalagi tidak sedikit guru yang memberi label “nakal” apabila ia merasa tidak sanggup mengendalikan siswanya. Di sisilain ukuran “nakal” tiap guru berbeda-beda. Sebagian guru akan menganggap siswanya “nakal” bila siswanya tidak mengerjakan PR, guru lain berpendapat siswa yang sering bolos/ tidak masuk sekolah adalah siswa yang “nakal”, sebagian lainnya menganggap siswa yang ribut saat pembelajaran adalah siswa yang “nakal”. 


Menurut saya tidak ada yang namanya siswa “nakal”, yang ada adalah;

  • Siswa yang krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan siswa terjadi karena siswa gagal mencapai masa integrasi kedua.
  • Siswa yang memiliki kontrol diri yang lemah. Siswa yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
  • Siswa yang kurang kasih sayang orang tua. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Akibatnya dia akan sering bolos atau terlambat sekolah. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.
  • Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan anaknya. 
  • Siswa yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam.
  • Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.
  • Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya atau bahkan melakukan kekersaan seperti apa yang ia alami.
  • Siswa yang salah bergaul. Lingkungan memang sangat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang salah bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.
Itulah beberapa sebab mengapa siswa berperilaku “nakal” saat di sekolah. Saat kita tahu latar belakang masalah perikau murid kita, tentunya kita akan merasa iba dan kasihan. Oleh karena itu mari kita sebagai pendidik mulai untuk menghentikan label negatif kepada siswa.
[ads-post]
Beberapa tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi perilaku siswa yang “nakal”, adalah:

  1. Berdo’a untuk anak terebut. Ucapkan namanya setiap kita berdo’a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.
  2. Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”. Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.
  3. Hentikan ucapan atau label “nakal” pada siswa tersebut. Kita tahu ucapan adalah do’a. jika kita mengucapakan kata nakal, secara tidak langsung kita berdo’a agar dia menjadi nakal. Katakanlah yang baik-baik untuknya, walau bagaimana pun perilaku dan perkataannya.
  4. Panggilah dia ke runag BK atau masjid. Ajaklah dia berbicara empat mata dan dari hati ke hati. Tanyakanlah kepada siswa tersebut tentang harapannya, permasalahannya, atau sebab dia berbuat “nakal”. Dengan hal ini kita jadi lebih tahu tentang dirinya dan permasalahan yang sedang ia hadapi. Pada akhirnya, berilah ia solusi, motivasi dan arahan.
  5. Latilah dia dengan rasa tanggung jawab. Hal ini bisa dilakukan dengan kita memberikan dia kepercayaan. Contoh: menjadi muadzin, mengumpulkan kas kelas, membantu kita merekap buku tabungan, atau dengan melibatkan dia dalam kegiatan OSIS dan ROIS (meskipun dia bukan penggurus OSIS dan ROIS). Hal ini akan membuat dia merasa dibutuhkan dan diperhatikan. Tujuan akhirnya adalah agar dia tahu mana hak dan kewajibannya/ tanggung jawabnya sebagai siswa.
  6. Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. Maka, tergurlah dengan pelan-pelan dan jangan dibentak atau dimarahi. Karena siswa tipe seperti ini tidak akan berubah bila dimarahi. Mereka butuh didekati, diperhatikan, dan diajak berdiskusi, serta berilah mereka motivasi agar bisa berubah menjadi lebih baik. Katakan pada mereka “saya yakin kamu bisa lebih baik lagi dari kamu yang sekarang”. “saya akan merasa bangga bila kamu bisa lebih baik dari kamu yang sekarang”.
  7. Apabila siswa tersebut berbuat “nakal”. janganlah diberikan hukuman fisik, seperti push up, set up, atau jalan jongkok. karena, hal ini justru akan menimbulkan rasa dendam dan jiwa melawan/ membangkang pada siswa. Tapi berikanlah dia hukuman seperti sholat dhuaha atau membaca Al-Qur'an.
  8. Buatlah perjanjian bila siswa tersebut berbuat “nakal”. Rekamlah dengan HP dan suruhlah dia mengucapkan janji agar tidak mengulangi perbuatannya. Bila dia mengulangi lagi, panggillah siswa tersebut dan putarlah rekamannya.
  9. Berilah dia pilihan. Berbuat baik konsekuensinya baik atau berbuat “buruk” konsekuensinya buruk.
  10. Bila siswa tersebut berbuat baik. Maka, pujilah dia. Pujian kita akan mebuat dia merasa bahwa usahanya dihargai dan diperhatikan oleh orang lain.

Itulah sedikit tips dari penulis. Semoga dapat memberikan manfaat. Prinsipnya adalah tidak ada siswa yang “nakal”. Yang ada adalah siswa kurang perhatian dan salah bergaul. Percayalah mereka bisa berubah. Perubahan itu akan bisa terjadi bila dimulai dengan strategi dengan menggunakan pendekatan hati. Bisa melalui tangan kita, atau mungkin tangan orang lain. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

ditulis Oleh: Arif Luqman Nadhirin
Sumber artikel */

Sumber foto */


Video menarik untuk di Tonton




Fenomena Home Schooling Sebagai Pendidikan Alternatif di Indonesia


Homeschooling ( sumber : homeschoolcreations.net )
Fenomena homeschooling beberapa tahun belakang ini kian mengeliat menjadi dan tren di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan orang-orang kota. Dan tidak sedikit dari orang tua yang lebih memilih untuk mendidik anaknya di homeschooling di banding sekolah reguler. Lalu sebenarnya apa yang di maksud dengan homeschooling itu? Apa kelebihan dan kekurangan bagi peserta didiknya? Berikut ini adalah sedikit paparan singkat megenai hal tersebut.

Pengertian Homeschooling


Homeschooling kadang disebut pula dengan istilah home education atau home-based learning. Secara resmi Depdiknas menggunakan istilah “sekolah rumah” atau “sekolah mandiri”. Homeschooling merupakan model pendidikan alternatif selain sekolah yang diselenggarakan oleh keluarga, yang memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing. Homeschooling ini sendiri pertama berkembang di Amrika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Baru kemudian menjadi tren di Indonesia tahun-tahun belakangan ini. 

Namun sebenarnya kalau kita melihat sejarah pada masa Nabi Muhammad saw, metode homeschooling ini telah ada. Bagaimana Nabi saw dan para sahabat-sahabatnya mendidik keluarga mereka sendiri. Setelah para sahabat mendapatkan ilmu dari dari Nabi saw, kemudian mereka menyampaikannya kepada istri dan anak-anak mereka. 

Oleh karena itu tidak heran kalau beliau pernah bersabda yang intinya, bahwa tidaklah seorang anak itu lahir ke dunia kecuali dalam keadaan fitrah (beragama Islam), tapi bagaimana kemudian ia menjadi orang Nasrani, Yahhudi, ataupun yang lainnya adalah karena kedua orang tuannya. Di sini jelas orang tua memegang perang yang amat vital dalam mengajar dan mendidik anak-anaknya.
[ads-post]
Sebagai informasi, Ki Hajar Dewantara, Buya Hamka dan KH Agus Salim, Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Agatha Christie, Thomas A. Edison, George Bernard Shaw, Woodrow Wilson, Mark Twain, Charlie Chaplin, Charles Dickens, Winston Churchill,bahkan Christopher Paolini adalah tokoh-tokoh besar yang lahir dari homes chooling.

Metode Homeschooling


Metode homeschooling ada tiga jenis. Pertama, homeschooling tunggal, kemudian homeschooling majemuk yang terdiri dari dua keluarga, dan yang terakhir homeschooling komunitas.
  1. Homeschooling tunggal adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh orang tua dalam suatu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya. Dalam hal ini orang tua terjun langsung sebagai guru menangani proses belajar anaknya, jika pun ada guru yang didatangkan secara privat hanya akan membimbing dan mengarahkan minat anak dalam mata pelajaran yang disukainya. Guru tersebut bisa berasal dari lembaga-lembaga yang khusus menyelengarakan program homeschooling, contonya adalah lembaga Asah Pena asuhan Kak Seto. Lembaga ini mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial yang terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan.
  2. Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.
  3. Sementara homeschooling komunitas adalah gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelelajaran. Dalam hal ini beberapa keluarga memberikan kepercayaan kepada Badan Tutorial untuk memberi materi pelajaran. Badan tutorial melakukan kunjungannya ke tempat yang disediakan komunitas.

Legalitas Homeschooling


Dasar penyelenggaraan homeschooling di antaranya adalah UU No. 20 Th. 2003 tentang Sisdiknas, terutama pasal 27 yang berbunyi: (1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Penyetaraan Homeschooling


Kegiatan homeschooling perlu dilaporkan ke Dinas Pendidikan setempat agar peserta homeschooling mendapat ijazah resmi dari pemerintah. Untuk ijazah SD adalah Paket A, SMP Paket B, dan SMA Paket C. Sistem ujiannya adalah melalui ujian nasional kesetaraan.

Jika di sekolah formal ada BOS, di homeschooling ada BOP (Bantuan Operasional Pendidikan), yakni: untuk Paket A bantuan warga belajar sebesar Rp. 238rb+Rp. 74rb (modul/bahan ajar); Paket B Rp. 260rb+Rp.80rb; dan Paket C Rp. 285rb+84rb.

Keunggulan Homeschooling


Metode pembelajaran tematik dan konseptual serta aplikatif menjadi beberapa poin keunggulan homeschooling. Homeschooling memberi banyak keleluasaan bagi anak didik untuk menikmati proses belajar tanpa harus merasa tertekan dengan beban-beban yang terkondisi oleh target kurikulum. 

Setiap siswa homeschooling diberi kesempatan untuk terjun langsung mempelajari materi yang disediakan, jadi tidak melulu membahas teori. Mereka juga diajak mengevaluasi secara langsung tentang materi yang sedang di bahas. Bahkan bagi siswa yang memiliki ketertarikan di bidang tertentu, misalnya Fisika atau Ilmu alam, diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan observasi dan penelitian sesuai ketertarikan mereka.

Beberapa keunggulan lain homeschooling sebagai pendidikan alternatif, yaitu karena sistem ini menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, lingkungan sosial dan suasana belajar yang lebih baik, menyediakan waktu belajar yang lebih fleksibel. Juga memberikan kehangatan dan proteksi dalam pembelajaran terutama bagi anak yang sakit atau cacat, menghindari penyakit sosial yang dianggap orang tua dapat terjadi di sekolah seperti tawuran, kenakalan remaja (bullying), narkoba dan pelecehan. 

Selain itu sistem ini juga memberikan keterampilan khusus yang menuntut pembelajaran dalam waktu yang lama seperti pertanian, seni, olahraga, dan sejenisnya, memberikan pembelajaran langsung yang kontekstual, tematik, dan nonscholastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.

Homeschooling juga memberikan metode pembelajaran yang lebih bebas, dimana anak didik tidak harus bersekolah dan jauh dari orangtuanya, serta bebas menggunakan sarana pembelajaran sendiri. Yang terpenting dalam adalah penanaman sikap mental belajar sehingga anak didik bisa belajar dengan cara mereka sendiri serta belajar dari siapa saja dan apa saja. 

Anak didik bisa belajar membuat rumah kepada tukang bangunan, belajar mengolah sawah kepada petani, belajar memerah susu kepada peternak sapi, belajar berjualan kepada pedagang, tanpa harus terikat tempat dan waktu.

Jumlah peserta didik yang terbatas membuat tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing peserta didik. Sebagai contoh, jika anak didik bercita-cita jadi penyanyi atau artis, dan merasa tidak perlu mempelajari Kimia atau Fisika, di homeschooling anak didik dibebaskan tidak mengambil pelajaran tersebut, karena peserta homeschooling diarahkan mengambil bidang studi sesuai dengan bakat dan potensi mereka.

Kekurangan Homeschooling


Keunggulan dan kekurangan adalam dua hal yang tidak bisa dipisahkan, di mana sesuatu ada keunggulan, pasti ada juga kekurangannya, begitu juga dengan homeschooling, beberapa kekurangan harus siap dihadapi oleh anak didik yang memilih homeschooling sebagai alternatif pendidikan. 

Diantaranya kekurangan yang tidak bisa kita pungkiri adalah kurangnya interaksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. Kemungkinan lainnya anak didik bisa terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga akan kurang siap nantinya menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian.

Kurangnya interaksi juga membuat anak didik kehilangan kesempatan untuk bergabung dalam salah satu tim olah raga, dan organisasi siswa pada umumnya seperti OSIS, PMR, IRM, PASKIBRA, pramuka, tim basket, tim sepak bola dan sebagainya seperti halnya yang terdapat disekolah umum. Pastinya kamu jadi tidak bisa merasakan indah dan serunya masa-masa SMU

Kekurangan lain adalah tidak ada kompetisi atau bersaing. Sehingga ada kemungkinan anak didik tidak bisa membandingkan sampai dimana kemampuannya dibanding anak-anak lain seusianya. Selain itu anak didik belum tentu merasa cocok jika diajar oleh orang tua sendiri, apalagi jika memang mereka tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya.

Faktor tingginya biaya homeschooling juga menjadi salah satu kekurangan, karena dipastikan biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pendidikan homeschooling lebih besar dibanding jika kita mengikuti pendidikan formal disekolah umum.

So, bagi yang tertarik dengan sistem pendidikan homeschooling, dan memutuskan untuk melakukan homeschooling pastikan anda memperoleh informasi yang cukup serta kesiapan mental untuk menjalani metode homeschooling tersebut. Yang terpenting, apapun yang anda pilih, anda harus menjalaninya dengan sepenuh hati, karena hanya dengan itulah prestasi terbaik akan anda raih.



Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar


Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar
Bimbingan Konseling ( sumber : www.qep.co.id )
Penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar memiliki keunikan dibandingkan di SMP atau SMA/SMK. Dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dinyatakan bahwa pada satu Sekolah Dasar atau gugus/sejumlah Sekolah Dasar dapat diangkat guru bimbingan dan konseling atau konselor untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling. Posisi struktural untuk konselor belum ditemukan di Sekolah Dasar.

Namun demikian, peserta didik usia Sekolah Dasar memiliki kebutuhan layanan sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga membutuhkan layanan bimbingan dari guru bimbingan dan konseling atau konselor meskipun berbeda dari ekspetasi kinerja konselor di jenjang sekolah Menengah. Sehingga, konselor juga dapat berperan secara produktif di jenjang Sekolah Dasar, bukan memosisikan diri sebagai fasilitator pengembangan diri peserta didik melainkan mungkin dengan memosisikan diri sebagai konselor kunjung yang membantu guru Sekolah Dasar mengatasi perilaku mengganggu.

Ketika Sekolah Dasar tidak/belum memiliki guru bimbingan dan konseling atau konselor maka layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh guru kelas sehingga materimateri bimbingan dan konseling dapat dipadukan dengan materi ajar melalui pembelajaran tematik. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya bahwa untuk guru kelas, di samping wajib melaksanakan proses pembelajaran juga wajib melaksanakan program bimbingan dan konseling terhadap peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.

> Permendikbud Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan Dan Konseling

Pendidikan pada Sekolah Dasar merupakan landasan penting dalam mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar yang diperlukan oleh setiap peserta didik untuk menjadi pembelajar yang sehat, cakap, dan percaya diri, serta siap melanjutkan studi. Dalam penyelenggaraan program bimbingan dan konseling di sekolah dasar, guru bimbingan dan konseling atau konselor bekerja dalam tim bersama guru kelas, kepala sekolah, orangtua, dan masyarakat untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dan berhasil.

Peserta didik sekolah dasar berada pada usia emas perkembangan dan merupakan masa membangun pengalaman belajar awal yang bermakna. Pada usia ini peserta didik berada pada masa peka dalam mengembangkan seluruh potensi dan kecerdasan otak mencapai 80%. Guru bimbingan dan konseling atau konselor dan guru kelas/mata pelajaran memiliki peran penting untuk memberikan ransangan yang tepat sehingga sel-sel otak berkembang dan berfungsi secara optimal untuk mendukung kematangan semua aspek perkembangan. Perkembangan yang optimal pada usia di Sekolah Dasar menjadi fondasi yang kuat bagi perkembangan pada tahap-tahap berikutnya. Pengalaman belajar awal yang menyenangkan dan bermakna bagi anak mendorong anak untuk memahami fungsi belajar bagi dirinya dan memotivasi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Masa sekolah di Sekolah Dasar merupakan waktu yang baik bagi peserta didik untuk mengembangkan konsep diri dan perasaan mampu serta percaya diri sebagai pembelajar. Peserta didik mulai mengembangkan keterampilan mengambil keputusan, berkomunikasi, dan keterampilan hidup. Di samping itu, peserta didik juga mengembangkan dan menguasai sikap yang tepat terhadap sekolah, diri sendiri, teman sebaya, kelompok sosial, dan keluarga.

Guru bimbingan dan konseling atau konselor di Sekolah Dasar dapat diangkat dengan cakupan tugas pada setiap sekolah atau di tingkat gugus sekolah untuk membantu guru mengembangkan potensi dan mengentaskan masalah peserta didik. Guru bimbingan dan konseling atau konselor di tingkat gugus berkantor di sekolah induk yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Dalam kondisi sekolah induk tidak memiliki ruang yang cukup, maka berkantor di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan atau unit pendidikan yang setingkat (Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014, Lampiran butir V.A).
[ads-post]
Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli dalam mencapai kemandirian. Bimbingan dan konseling merupakan komponen integral sistem pendidikan pada suatu satuan pendidikan berupaya memfasilitasi dan memandirikan peserta didik dalam rangka tercapainya perkembangan individu secara utuh dan optimal. Sebagai komponen integral, wilayah bimbingan dan konseling yang memandirikan secara terpadu bersinergi dengan wilayah layanan administrasi dan manajemen, serta wilayah kurikulum dan pembelajaran yang mendidik.

Pada penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Dasar, guru bimbingan dan konseling atau konselor berperan membantu tercapainya perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir peserta didik. Pada satuan pendidikan ini, guru bimbingan dan konseling atau konselor menjalankan semua fungsi bimbingan dan konseling, yaitu fungsi pemahaman, fasilitasi, penyesuaian, penyaluran, adaptasi, pencegahan, perbaikan, advokasi, pengembangan, dan pemeliharaan. Meskipun guru bimbingan dan konseling atau konselor memegang peranan kunci dalam sistem bimbingan dan konseling di sekolah, dukungan dari kepala sekolah sangat dibutuhkan. Sebagai penanggung jawab pendidikan di sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab terselenggarakannya layanan bimbingan dan konseling. Selain itu, guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah harus berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lain seperti guru kelas, guru mata pelajaran, wali kelas, komite sekolah, orang tua peserta didik, dan pihak-pihak lain yang relevan.

> Pedoman Bimbingan dan Konseling Sesuai dengan Lampiran Permendikbud Nomor 111 tahun 2014

Layanan bimbingan dan konseling di sekolah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah beserta lampirannya. Pasal 12 ayat 2 dan 3 Permendikbud tersebut disebutkan bahwa perlu disusun panduan operasional yang dalam hal ini pada satuan pendidikan Sekolah Dasar. Penyiapan panduan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga kepala sekolah, guru bimbingan konseling atau konselor, guru kelas dan guru mata pelajaran memiliki arah yang jelas dalam menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.

Untuk Lebih Jelasnya silahkan simpan panduan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.

sumber gambar : www.qep.co.id

Pedoman Bimbingan dan Konseling Sesuai dengan Lampiran Permendikbud Nomor 111 tahun 2014


Pedoman Bimbingan dan Konseling
Contoh Alokasi Waktu BK
Bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional pada satuan pendidikan dilakukan oleh tenaga pendidik profesional yaitu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling. Konselor adalah seseorang yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/ Konselor.Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling yangdihasilkan Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK) dapat ditugasi sebagai Guru Bimbingan dan Konseling untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan.

Guru Bimbingan dan Konseling yang bertugas pada satuan pendidikan tetapi belum memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi yang ditentukan, secara bertahap ditingkatkan kualifikasi akademik dan kompetensinya sehingga mencapai standar yang ditentukan sebagaimana yang diatur dalam Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor yaitu Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.

> Permendikbud Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan Dan Konseling

Program Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor (PPGBK/K) menghasilkan tenaga pendidik profesional dalam bidang bimbingan dan konseling/ Konselor. Kurikulum pendidikan profesi guru bimbingan dan konseling sama dengan kurikulum pendidikan profesi konselor, dengan demikian lulusan program PPGBK/K menghasilkan pendidik profesional dalam bidang bimbingan dan konseling yang disebut konselor atau guru bimbingan dan konseling yang dianugerahi gelar Gr.Kons.

Fungsi layanan bimbingan dan konseling terdiri dari;

  1. Pemahaman yaitu membantu konseli agar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, budaya, dan norma agama).
  2. Fasilitasi yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek pribadinya.
  3. Penyesuaian yaitu membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri dan dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
  4. Penyaluran yaitu membantu konseli merencanakan pendidikan, pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan, yang sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya.
  5. Adaptasi yaitu membantu para pelaksana pendidikan termasuk kepala satuan pendidikan, staf administrasi,dan guru mata pelajaran atau guru kelas untuk menyesuaikan program dan aktivitas pendidikan dengan latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik/konseli.
  6. Pencegahan yaitu membantu peserta didik/konseli dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah dan berupaya untuk mencegahnya, supaya peserta didik/konseli tidak mengalami masalah dalam kehidupannya.
  7. Perbaikan dan Penyembuhan yaitu membantu peserta didik/konseli yang bermasalah agar dapat memperbaiki kekeliruan berfikir, berperasaan, berkehendak, dan bertindak. Konselor atau guru bimbingan dan konseling melakukan memberikan perlakuan terhadap konseli supaya memiliki pola fikir yang rasional dan memiliki perasaan yang tepat, sehingga konseli berkehendak merencanakan dan melaksanakan tindakan yang produktif dan normatif.
  8. Pemeliharaan yaitu membantu peserta didik/konseli supaya dapat menjaga kondisi pribadi yang sehat-normal dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.
  9. Pengembangan yaitu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli melalui pembangunan jejaring yang bersifat kolaboratif.
  10. Advokasi yaitu membantu peserta didik/konseli berupa pembelaan terhadap hak-hak konseli yang mengalami perlakuan diskriminatif.


Asas dan Prinsip Bimbingan dan Konseling



1. Asas layanan bimbingan dan konseling

  1. Kerahasiaan yaitu asas layanan yang menuntut konselor atau guru bimbingan dan konseling merahasiakan segenap data dan keterangan tentang peserta didik/konseli, sebagaimana diatur dalam kode etik bimbingan dan konseling.
  2. Kesukarelaan, yaitu asas kesukaan dan kerelaan peserta didik/konseli mengikuti layanan yang diperlukannya.
  3. Keterbukaan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam memberikan dan menerima informasi.
  4. Keaktifan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli memerlukan keaktifan dari kedua belah pihak.
  5. Kemandirian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang merujuk pada tujuan agar peserta didik/ konseli mampu mengambil keputusan pribadi, sosial, belajar, dan karir secara mandiri.
  6. Kekinian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berorientasi pada perubahan situasi dan kondisi masyarakat di tingkat lokal, nasional dan global yang berpengaruh kuat terhadap kehidupan peserta didik/konseli.
  7. Kedinamisan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berkembang dan berkelanjutan dalam memandang tentang hakikat manusia, kondisi-kondisi perubahan perilaku, serta proses dan teknik bimbingan dan konseling sejalan perkembangan ilmu bimbingan dan konseling.
  8. Keterpaduan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang terpadu antara tunjuan bimbingan dan konseling dengan tujuan pendidikan dan nilai – nilai luhur yang dijunjung tinggi dan dilestarikan oleh masyarakat.
  9. Keharmonisan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang selaras dengan visi dan misi sekolah, nilai dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat.
  10. Keahlian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling berdasarkan atas kaidah-kaidah akademik dan etika profesional, dimana layanan bimbingan dan konseling hanya dapat diampu oleh tenaga ahli bimbingan dan konseling.
  11. Tut wuri handayani yaitu suatu asas pendidikan yang mengandung makna bahwa konseloratau guru bimbingan dan konseling sebagai pendidik harus memfasilitasi setiap peserta didik/konseli untuk mencapai tingkat perkembangan yang utuh dan optimal.


2. Prinsip bimbingan dan konseling

  1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik/konseli dan tidak diskriminatif. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik/konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa tanpa diskriminatif.
  2. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap peserta didik bersifat unik (berbeda satu sama lainnya) dan dinamis, dan melalui bimbingan peserta didik/konseli dibantu untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh.
  3. Bimbingan dan konseling menekankan nilai-nilai positif. Bimbingan dan konseling merupakan upaya memberikan bantuan kepada konseli untuk membangun pandangan positif dan mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada dirinya dan lingkungannya.
  4. Bimbingan dan konseling merupakan tanggung jawab bersama. Bimbingan dan konseling bukan hanya tanggung jawab konselor atau guru bimbingan dan konseling, tetapi tanggungjawab guru-guru dan pimpinan satuan pendidikan sesuai dengan tugas dan kewenangan serta peran masing-masing.
  5. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk membantu peserta didik/konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan serta merealisasikan keputusannya secara bertanggungjawab.
  6. Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya berlangsung pada satuan pendidikan, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya.
  7. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan. Penyelenggaraan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
  8. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam bingkai budaya Indonesia. Interaksi antar guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan peserta didik harus senantiasa selaras dan serasi dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh kebudayaan dimana layanan itu dilaksanakan.
  9. Bimbingan dan konseling bersifat fleksibel dan adaptif serta berkelanjutan. Layanan bimbingan dan konseling harus mempertimbangkan situasi dan kondisi serta daya dukung sarana dan prasarana yang tersedia.
  10. Bimbingan dan konseling diselenggarakan oleh tenaga profesional dan kompeten. Layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh tenaga pendidik profesional yaitu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dari Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan yang terakreditasi.
  11. Program bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dalam berbagai aspek perkembangan.
  12. Program bimbingan dan konseling dievaluasi untuk mengetahui keberhasilan layanan dan pengembangan program lebih lanjut.

Permendikbud Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan Dan Konseling Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah


Permendikbud Nomor 111 tahun 2014
Permendikbud Nomor 111 tahun 2014
Berikut merupakan Petikan Permendikbud Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan Dan Konseling Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah.

Dalam rangka pengembangan kompetensi hidup, peserta didik memerlukan sistem layanan pendidikan di satuan pendidikan yang tidak hanya mengandalkan layanan pembelajaran mata pelajaran/bidang studi dan manajemen, tetapi juga layanan bantuan khusus yang lebih bersifat psiko-edukatif melalui layanan bimbingan dan konseling.

Setiap peserta didik satu dengan lainnya berbeda kecerdasan, bakat, minat, kepribadian, kondisi fisik dan latar belakang keluarga serta pengalaman belajar yang menggambarkan adanya perbedaan masalah yang dihadapi peserta didik sehingga memerlukan layanan Bimbingan dan Konseling.

Kurikulum 2013 mengharuskan peserta didik menentukan peminatan akademik, vokasi, dan pilihan lintas peminatan serta pendalaman peminatan yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling.

Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/Konseli dalam mencapai kemandirian dalam kehidupannya. Konseli adalah penerima layanan Bimbingan dan Konseling pada satuan pendidikan.

Layanan Bimbingan dan Konseling memiliki tujuan membantu Konseli mencapai perkembangan optimal dan kemandirian secara utuh dalam aspek pribadi, belajar, sosial, dan karir.

Kunjungi juga :
> Pedoman Bimbingan dan Konseling Sesuai dengan Lampiran Permendikbud Nomor 111 tahun 2014

Layanan Bimbingan dan Konseling bagi Konseli pada satuan pendidikan memiliki fungsi:

  1. pemahaman diri dan lingkungan;
  2. fasilitasi pertumbuhan dan perkembangan;
  3. penyesuaian diri dengan diri sendiri dan lingkungan;
  4. penyaluran pilihan pendidikan, pekerjaan, dan karir;
  5. pencegahan timbulnya masalah;
  6. perbaikan dan penyembuhan;
  7. pemeliharaan kondisi pribadi dan situasi yang kondusif untuk perkembangan diri Konseli;
  8. pengembangan potensi optimal;
  9. advokasi diri terhadap perlakuan diskriminatif; dan
  10. membangun adaptasi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap program dan aktivitas pendidikan sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat, minat, kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan Konseli.


Layanan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan dengan asas:
  1. kerahasiaan sebagaimana diatur dalam kode etik Bimbingan dan Konseling;
  2. kesukarelaan dalam mengikuti layanan yang diperlukan;
  3. keterbukaan dalam memberikan dan menerima informasi;
  4. keaktifan dalam penyelesaian masalah;
  5. kemandirian dalam pengambilan keputusan;
  6. kekinian dalam penyelesaian masalah yang berpengaruh pada kehidupan Konseli;
  7. kedinamisan dalam memandang Konseli dan menggunakan teknik layanan sejalan dengan perkembangan ilmu Bimbingan dan Konseling;
  8. keterpaduan kerja antarpemangku kepentingan pendidikan dalam membantu Konseli;
  9. keharmonisan layanan dengan visi dan misi satuan pendidikan, serta nilai dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat;
  10. keahlian dalam pelayanan yang didasarkan pada kaidah-kaidah akademik dan profesional di bidang Bimbingan dan Konseling;
  11. Tut Wuri Handayani dalam memfasilitasi setiap peserta didik untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal.

Layanan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip:
  1. diperuntukkan bagi semua dan tidak diskriminatif;
  2. merupakan proses individuasi;
  3. menekankan pada nilai yang positif;
  4. merupakan tanggung jawab bersama antara kepala satuan pendidikan, Konselor atau guru Bimbingan dan Konseling, dan pendidik lainnya dalam satuan pendidikan;
  5. mendorong Konseli untuk mengambil dan merealisasikan keputusan secara bertanggungjawab;
  6. berlangsung dalam berbagai latar kehidupan;
  7. merupakan bagian integral dari proses pendidikan;
  8. dilaksanakan dalam bingkai budaya Indonesia;
  9. bersifat fleksibel dan adaptif serta berkelanjutan;
  10. dilaksanakan sesuai standar dan prosedur profesional Bimbingan dan Konseling; dan
  11. disusun berdasarkan kebutuhan Konseli.

Kunjungi Juga :

(1) Komponen layanan Bimbingan dan Konseling memiliki 4 (empat) program yang mencakup:
  • layanan dasar;
  • layanan peminatan dan perencanaan individual;
  • layanan responsif; dan
  • layanan dukungan sistem.
(2) Bidang layanan Bimbingan dan Konseling mencakup:
  • bidang layanan pribadi;
  • bidang layanan belajar;
  • bidang layanan sosial; dan
  • bidang layanan karir.
(3) Komponen layanan Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan bidang layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan ke dalam program tahunan dan semester dengan mempertimbangkan komposisi dan proporsi serta alokasi waktu layanan baik di dalam maupun di luar kelas.

(4) Layanan Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang diselenggarakan di dalam kelas dengan beban belajar 2 (dua) jam perminggu.

(5) Layanan Bimbingan dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang diselenggarakan di luar kelas, setiap kegiatan layanan disetarakan dengan beban belajar 2 (dua) jam perminggu.



Point Penting dalam mengatur Denah Tempat Duduk Siswa


Siswa bertumbuh dan berkembang baik secara intelektual, fisik, juga emosional di dalam kelas. Oleh sebab itu, kelas harus menjadi taman belajar yang nyaman bagi siswa. Pengelolaan kelas yang baik akan menciptakan interaksi belajar mengajar yang efektif. Jika demikian, maka tujuan pembelajaran pun akan tercapai tanpa kendala berarti.
Denah Tempat Duduk Siswa
sumber foto beritalima.com

Tanpa sadar, ruang kelas memberikan pengaruh besar bagi siswa dalam keefektifan penyampaian materi. Misalnya, jika temperatur ruangan terlalu dingin atau panas, kemudian sistem ventilasi kurang baik tentu akan mengganggur konsentrasi siswa. Bahkan, segala perabotan penunjang belajar harus ditata dengan sebaik mungkin agar perhatian siswa dapat terpusat pada pelajaran. Tata letak media peraga yang kurang sesuai tempatnya akan menghalangi pandangan siswa sehingga fokus siswa bisa teralih.

Apabila ingin menciptakan suasana belajar yang kondusif serta nyaman, Seorang guru perlu memerhatikan pengaturan tata letak ruang kelas. Bagaimana caranya? Kelas harus dikelola agar suasana belajar juga menjadi lebih kondusif. Memiliki cahaya dan sirkulasi udara yang cukup, tidak lembab, rapi, bersih, dan seluruh perabot ditata dengan baik. Selain itu, pengelolaan kelas dapat dilakukan dengan pengaturan denah duduk siswa.

baca Juga :
> 5 Metode Pengajaran di kelas yang Lebih Interaktif
> Problem Based Learning Tehnik Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Belajar

Prinsip yang perlu diperhatikan dalam tata kelola kelas diantaranya:

1. Visibility (Keleluasaan Pandangan)


Barang-barang di dalam kelas sebaiknya ditempatkan dengan baik agar tidak mengganggu pandangan siswa. Siswa akan lebih leluasa dalam menatap ke arah guru, papan tulis, media belajar, dan sebagainya. Begitu juga dengan guru, harus dapat memandang seluruh siswa sepanjang kegiatan belajar mengajar.

2. Accesibility (mudah dicapai)


Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk mengambil segala barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu, jarak antar tempat duduk harus cukup dilalui oleh siswa sehingga dapat bergerak dengan mudah. Juga, siswa lain yang sedang fokus tidak merasa terganggu.

3. Fleksibilitas (Keluwesan)


Menyesuaikan agar barang dalam kelas mudah ditata dan dipindahkan sesuai kegiatan pembelajaran. Misalnya, penataan tempat duduk yang diubah sewaktu-waktu jika proses belajar menggunakan metode diskusi dan kerja kelompok.

4. Kenyamanan


Baik dari temperatur ruangan, tidak terlalu panas, dingin, juga lembab. Sinar cahaya yang cukup, tidak gelap, juga terlalu terang. Ketenangan dalam dan sekitar kelas juga perlu dikontrol, karena suara berpengaruh pada fokus siswa.

5. Keindahan


Ruang kelas dibuat semenyenangkan mungkin agar kondisi belajar bisa kondusif. Misalnya, memajang hasil karya siswa di kelas. Ruangan kelas yang nyaman dapat memberikan pengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa.

Pengelolaan denah duduk siswa juga bisa mempengaruhi suasana belajar. Jika biasanya denah yang digunakan adalah tradisional, yaitu semeja dua orang, maka perlu dilakukan variasi.

Berikut ada beberapa jenis penataan denah tempat duduk siswa yang dapat dicoba.

Model U

Denah Formasi U
Formasi Model U ( sumber : blog.ruangguru.com )
Formasi dengan bentuk huruf U dapat meningkatkan keaktifan siswa, sehingga mereka jadi lebih antusias mengikuti pelajaran. Dalam hal ini, Seorang Guru adalah sosok yang paling aktif dengan bergerak ke segala arah dan langsung berinteraksi dengan siswa.

Meja konferensi

Denah Formasi Konferensi
Formasi Meja Konferensi ( sumber : blog.ruangguru.com )

Formasi denah ini sangat baik digunakan dalam metode belajar debat. Dengan demikian, seluruhnya dapat bertatap muka mengemukakan dan menyanggah pendapat.

Corak tim

Formasi Corak tim setengah lingkaran
Formasi Corak tim/setengah lingkaran ( sumber : blog.ruangguru.com ) 

Dengan denah demikian, meja-meja dikelompokkan setengah lingkaran. Ini memungkinkan guru berinteraksi dengan setiap tim lebih mudah. Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja agar suasana jadi lebih akrab. Siswa juga bisa memutar kursi secara melingkar menghadap ke depan kelas untuk melihat guru dan papan tulis.

Auditorium

Formasi aUditorium
Formasi bentuk auditorium ( sumber : blog.ruangguru.com )

Ini merupakan formasi alternatif dalam menyusun denah duduk siswa. Bentuk denah ini memang membuat ruang gerak jadi lebih terbatas untuk belajar aktif. Tapi tidak ada salahnya dicoba demi mengurangi kebosanan siswa. Dengan formasi ini, Guru dapat membuat bentuk pelajaran ala auditorium untuk bangun hubungan yang lebih erat.

baca juga :
> Contoh Kegiatan Pembelajaran yang Mengaplikasikan Metode Pembelajaran Kolaboratif Pada Siswa
> Gunakan Tehnik ‘Math Manipulatives’ Pada Pelajaran Matematika Agar Siswa Lebih Antusias dalam belajar

Lingkaran

Formasi Lingkaran
Formasi bentuk lingkaran ( sumber : blog.ruangguru.com )

Pada formasi ini, tempat duduk siswa disusun dalam bentuk lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi satu sama lain. Model ini cocok untuk berdiskusi kelompok.

Susunan Chevron

Formasi susunan Chevron
Formasi Susunan Chevron ( sumber : blog.ruangguru.com )

Denah ini bisa sangat membantu untuk mengurangi jarak antarsiswa, maupun siswa dengan guru. Siswa dan Guru jadi punya pandangan yang lebih baik terhadap lingkungan kelas. Formasi ini memberi sudut pandang baru bagi siswa, sehingga proses kegiatan belajar dapat dijalani dengan antusias, fokus, sekaligus menyenangkan.

Ada beberapa hal yang perlu diingat perihal penataan tempat duduk siswa. Sebaiknya seorang guru mempertimbangkan karakteristik dari setiap siswa dilihat dari aspek psikologis, kecerdasan, dan biologisnya. Bukan hanya berdasarkan metode belajar yang ingin digunakan saja.

Sumber artikel : blog.ruangguru.com
Sumber gambar depan : beritalima.com

5 Metode Pengajaran di kelas yang Lebih Interaktif


Menjadi seorang guru tidak berarti harus terpaku pada metode pengajaran yang monoton, Guru juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman agar proses mengajar tidak tertinggal.
5 Metode Pengajaran di kelas yang Lebih Interaktif
siswa tertidur saat belajar ( foto : Vemale.com )

Dilansir dari laman blog.ruangguru.com ada Lima cara di bawah ini yang bisa diterapkan untuk memperbaharui metode mengajar.

1. Tanya Jawab


Dengan model tanya jawab, semua siswa akan ikut aktif terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Selain bisa mengasah kemampuan pembelajaran, metode ini pun dapat digunakan untuk mencairkan suasana dalam kelas lho. Lemparkan satu atau dua pertanyaan secara santai, dan kelas pun jadi lebih hidup dengan diskusi interaktif. Tantang siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan kondisi yang sedang terjadi.

baca juga :
> Problem Based Learning Tehnik Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Belajar
> Contoh Kegiatan Pembelajaran yang Mengaplikasikan Metode Pembelajaran Kolaboratif Pada Siswa
> Gunakan Tehnik ‘Math Manipulatives’ Pada Pelajaran Matematika Agar Siswa Lebih Antusias

2. Powerpoint


Penyampaian materi dengan powerpoint dapat membantu siswa lebih mudah paham. Poin-poin yang disertai visualisasi gambar, infografik, dan video akan menarik perhatian siswa. Nah, untuk metode ini, bapak/ibu guru harus mengeksplor materi agar lebih menyenangkan dan menyajikan dengan cara kreatif.

3. Teknologi


Seiring berkembangnya zaman, bapak/ibu guru jangan sampai kalah dengan para siswa. Harus melek teknologi agar dapat menyesuaikan dengan generasi sekarang. Perkembangan teknologi ini dapat disikapi dengan positif, salah satunya untuk metode belajar. Misalnya, memberikan rekomendasi video belajar, e-book inspiratif, dan sebagainya. Kemudian, coba ajak siswa mengerjakan latihan soal secara online. Mereka jadi terlatih untuk mengerjakan soal computer based test. Cara ini juga akan lebih mempermudah bapak/ibu guru untuk memberi dan menilai hasil belajar siswa karena praktis.

4. Motivasi


Ada beberapa strategi dalam metode ini. Mulai dari memberi perhatian khusus pada minat dan bakat siswa, meningkatkan rasa ingin tahu siswa, dan mendampingi siswa. Apabila ada siswa yang sudah menemukan passion-nya, bapak/ibu guru wajib mendukung. Ubahlah cara pandang Anda mengenai kesuksesan. Tak melulu yang kurang di bidang hitung-hitungan berarti bodoh, suka pelajaran Seni tidak akan punya masa depan jelas, dan sebagainya. Jika siswa merasa didukung akan passion-nya, maka ia akan lebih nyaman dengan Anda yang kemudian diikuti dengan rasa respect. Kalau siswa sudah respect, tidak mungkin mereka mengabaikan petuah dari guru kesayangannya, bukan? Di sinilah bapak/ibu bisa sambil memotivasi agar passion dan akademik bisa dijalankan secara imbang.

5. Apresiasi


Siapa yang tidak senang diapresiasi? Semua orang pasti merasa berharga jika diberikan apresiasi, sekecil apa pun. Misalnya, jawaban yang diberikan siswa kurang tepat, tetaplah memberikan apresiasi positif. Setidaknya, hargai keberanian mereka untuk menjawab pertanyaan Anda. Tidak semua siswa lho punya keberanian untuk menjawab hanya karena takut salah dan dikira bodoh. Apresiasi yang diberikan bukan berarti harus berupa sanjungan, namun cukup kalimat positif yang akan membuatnya lebih semangat. Jika semangatnya muncul, ia akan lebih percaya diri dan giat belajar.

sumber artikel : blog.ruangguru.com
sumber gambar : Vemale.com

Problem Based Learning Tehnik Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Belajar


Siapa yang tidak pernah punya masalah di dunia ini? Nampak mustahil ya. Agar tidak berlarut-larut, Anda harus mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, adanya masalah juga bisa disikapi dengan bijak. Semakin sering Anda berhadapan dengan masalah, semakin dewasa dan bijak pula Anda nantinya.
Siswa mempresentasikan tugas didepan kelas (sumber : youtube.com)

Bicara mengenai masalah, di dunia pendidikan ada metode pembelajaran problem based learning (PBL). Umumnya, metode ini akan mengenalkan siswa pada suatu kasus yang memiliki keterkaitan dengan materi yang dibahas. Kemudian, siswa akan diminta agar mencari solusi untuk menyelesaikan kasus/masalah tersebut. Selain itu, metode ini akan meningkatkan kecakapan berpartisipasi dalam tim. Seperti apa bentuk metode pembelajaran PBL? Simak dulu yuk!

Dilansir dari laman blog.ruangguru.com Metode Problem Based Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi di dunia nyata. Dengan ini, siswa akan dilatih berpikir kritis serta menemukan solusi. Ada enam ciri Metode Problem Based Learning, di antaranya:

  1. Kegiatan belajar dimulai dengan pemberian sebuah masalah.
  2. Masalah yang disuguhkan masih berkaitan dengan kehidupan nyata para siswa.
  3. Mengorganisasikan pembahasan seputar masalah, bukan disiplin ilmu.
  4. Siswa diberi tanggung jawab maksimal dalam menjalankan proses belajar secara langsung.
  5. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, terjadi kolaborasi.
  6. Siswa harus mendemonstrasikan kinerja yang sudah dipelajari.

baca juga :


Langkah-langkah dalam menerapkan Metode Problem Based Learning sebagai berikut :

1. Orientasi siswa pada masalah


Pertama, sampaikan pada siswa tentang tujuan pembelajaran yang ingin Anda capai. Kemudian, sajikan sebuah masalah yang harus dipecahkan siswa. Masalah digunakan untuk meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan analisis, juga inisiatif. Pastikan setiap anggota paham berbagai istilah serta konsep yang ada dalam masalah. Sebagai guru, Anda juga berperan sebagai pemberi motivasi agar setiap siswa terlibat langsung dalam pemecahan masalah.

2. Mengorganisasi siswa


Setiap anggota dalam kelompok akan menyampaikan informasi yang sudah dimiliki perihal masalah yang ada. Kemudian, akan terjadi diskusi yang membahas informasi faktual, dan juga informasi yang dimiliki setiap siswa. Nah, di sinilah brainstorming dilakukan. Peran Anda sebagai guru adalah membantu siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang relevan dengan masalah yang disajikan.

3. Membimbing penyelidikan


Mendorong siswa dalam pengumpulan informasi yang relevan, melaksanakan eksperimen, hingga mendapat insight untuk pemecahan masalah.

4. Mengembangkan hasil karya


Membantu siswa ketika proses perencanaan dan penyajian karya. Beberapa di antaranya video, model, laporan, dan membagi tugas di antara anggota dalam kelompok.

5. Analisis dan evaluasi


Arahkan siswa untuk melakukan refleksi dan evaluasi dalam setiap proses yang dijalankan dalam penyelidikan. Kelompokkan bagian yang sudah dianalisis keterkaitannya satu dengan lain. Manakah yang paling menunjang, bertentangan, dan lain-lain.

baca juga :
> Tehnik Kreatif dalam mendidik Siswa Lewat Permainan Tradisional
> Metode Inovatif yang baik dicontoh dalam Mengajar Ala Dragon Zakura

Secara singkat, tahapan analisis dan evaluasi yaitu :

  1. Menyadari masalah
  2. Merumuskan masalah
  3. Merumuskan hipotesis
  4. Mengumpulkan data
  5. Menguji hipotesis
  6. Menentukan pilihan penyelesaian


Kelebihan dari metode pembelajaran Problem Based Learning


Metode yang efektif untuk memahami isi pelajaran.

  • Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  • Meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
  • Mengaplikasikan materi yang selama ini diajarkan ke dalam kehidupan nyata.
  • Mengembangkan pengetahuan baru hasil dari brainstorming.
  • Belajar bertanggungjawab atas pembelajaran yang dilakukan.
  • Menunjukkan pada siswa bahwa mata pelajaran yang dipelajari di kelas pada dasarnya merupakan sesuatu yang harus dimengerti. Bukan hanya sekadar belajar dari guru atau baca buku.
  • Lebih menyenangkan.
  • Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  • Meningkatkan minat siswa untuk belajar terus menerus, bahkan di luar sekolah. 

sumber artikel : blog.ruangguru.com
sumber gambar : youtube.com

Contoh Kegiatan Pembelajaran yang Mengaplikasikan Metode Pembelajaran Kolaboratif Pada Siswa


Saat ini pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu metode pembelajaran yang cukup populer diterapkan di sekolah maupun perguruan tinggi. Metode ini memungkinkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Jadi, dalam suatu kelas, guru tidak terus menerus mengajar dan menjelaskan selama dua jam penuh.
Foto : realita.co

Beberapa manfaat dari metode pembelajaran kolaboratif ini adalah siswa menjadi lebih percaya diri, berani mengemukakan pendapatnya, dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya. Mereka juga menjadi lebih mandiri saat belajar, tidak selalu ‘disuapi’ oleh para guru.

Dilansir dari laman blog.ruangguru.com Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas yang dapat membangun keaktifan siswa dalam berpartisipasi dan berkolaborasi di dalam kelas. Yuk, simak.

baca Juga :
> Gunakan Tehnik ‘Math Manipulatives’ Pada Pelajaran Matematika Agar Siswa Lebih Antusias dalam belajar
> Tehnik Kreatif dalam mendidik Siswa Lewat Permainan Tradisional


Diskusi dengan teknik fishbowl


Melalui teknik ini, setiap siswa akan berinteraksi dalam bentuk bertukar pengalaman dan informasi, serta memecahkan suatu permasalahan bersama. Seluruh siswa diharuskan berpartisipasi secara aktif, tidak hanya menjadi pendengar saja. Kegiatan ini dinamakan fishbowl karena orang yang mengamati jalannya diskusi seolah-olah sedang melihat ikan di dalam akuarium.

Bagaimana aturan mainnya? Pertama-tama, siswa dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok diskusi dan kelompok pengamat. Kelompok diskusi akan duduk pada lapisan dalam sebuah lingkaran sedangkan kelompok pengamat berada di lapisan luar. Setelah itu, guru memberikan topik untuk didiskusikan oleh kelompok diskusi. Di saat yang sama, kelompok pengamat harus mengamati jalannya diskusi. Mereka juga boleh mencatat hal-hal yang penting. Nantinya, kelompok pengamat juga akan diberikan waktu untuk berpendapat. Saat diskusi pertama selesai, siswa berganti peran. Mereka yang sebelumnya ada di kelompok diskusi kini akan menjadi kelompok pengamat dan sebaliknya. Kemudian, diskusi kedua dimulai.

Bermain


Sebuah kolaborasi tentu tidak bisa dipaksakan, apalagi untuk siswa yang tergolong masih kecil. Oleh sebab itu, guru dapat mengajarkan siswa untuk berkolaborasi melalui permainan. Ada banyak permainan yang bermanfaat untuk melatih kemampuan kolaborasi siswa, lho. Salah satunya adalah permainan balloon bop.

Dalam permainan ini, seorang guru akan membutuhkan beberapa balon. Siswa berdiri membentuk sebuah lingkaran sambil bergenggaman tangan. Kemudian, guru akan melempar balon-balonnya. Tugas siswa adalah melempar kembali balon tersebut sebelum jatuh ke tanah. Namun, mereka harus tetap berpegangan tangan. Siswa dapat melempar balonnya menggunakan tangan, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali kaki. Melalui permainan ini, siswa dilatih untuk berkomunikasi dan bekerja sama.

Permainan lainnya adalah minefield. Dalam permainan ini, seorang siswa akan ditutup matanya dan harus berjalan menuju suatu tempat. Teman-temannya dalam satu tim harus mengarahkannya sampai misi berhasil dicapai. Pada permainan ini, siswa akan berlatih kolaborasi secara efektif.

Brainwriting


Dalam metode pembelajaran kolaboratif, brainstorming merupakan sebuah aktivitas yang sering dilakukan. Namun, acapkali pada penerapannya brainstorming tidak cukup efektif. Tidak semua ide bisa diutarakan oleh siswa. Oleh karena itu, hasil diskusi bukanlah solusi atau ide terbaik.

Brainwriting memungkinkan siswa untuk menuliskan idenya terlebih dahulu sebelum mulai berdiskusi. Ide tersebut dituliskan dalam post¬-it dan tidak diberi nama. Semua ide akan ditempel pada papan atau dinding agar dapat dilihat oleh seluruh siswa. Setelah itu barulah siswa diminta untuk mendiskusikan seluruh ide yang ada. Bahkan, dengan brainwriting, siswa bisa mengombinasikan dua ide berbeda menjadi ide baru yang lebih baik.

Bercerita dengan metode Zoom


Kegiatan ini mungkin sudah cukup sering dilakukan. Tanpa modal berarti, kemampuan kolaborasi siswa dapat terasah. Alat yang perlu disiapakan hanyalah sebuah gambar, bisa gambar apa saja. Kemudian, siswa pertama diminta untuk membuat cerita mengenai gambar tersebut. Selanjutnya, cerita akan dilanjutkan oleh siswa berikutnya. Begitu seterusnya. Melalui kegiatan ini, siswa dapat bebas berimajinasi dan secara tidak langsung berkolaborasi dengan teman-temannya untuk membangun sebuah cerita yang utuh dan logis.

baca juga :
> Metode Inovatif yang baik dicontoh dalam Mengajar Ala Dragon Zakura
> Strategi Kreatif dalam Memacu Partisipasi Siswa di Kelas

Melakukan proyek berkelompok


Proyek yang dimaksud di sini adalah proyek singkat yang dapat diselesaikan dalam waktu 20 menit. Salah satu proyek yang dapat dilakukan adalah membuat prakarya. Pertama-tama, bagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok akan mendapat dua buah gunting, dua lembar kertas, sepuluh penjepit kertas, dan selotip. Instruksikan siswa untuk membangun menara setinggi-tingginya dengan alat tersebut. Batasi waktu kerja mereka dalam 20 menit. Aktivitas ini akan mengajarkan siswa untuk berpikir secara matang sebelum mengeksekusi suatu tugas. Mereka akan berpikir dan mengeksekusi pembangunan menara secara bersama-sama. Dengan demikian, mereka berlatih untuk menjadi pribadi yang kolaboratif.

Itu dia lima kegiatan yang dapat menjadikan siswa mau berkolaborasi di dalam kelas. Aktivitas tersebut memang sengaja dibuat tidak terlalu akademik dengan harapan nantinya sifat kolaboratif akan tertanam di jiwa setiap siswa. Tidak apa-apa, kan, sejenak melakukan aktvitas menyenangkan di sela-sela belajar Matematika atau pelajaran lainnya? Yuk, coba terapkan kegiatan-kegiatan tersebut di kelas Anda. Jika Anda memiliki ide kreatif lainnya untuk diaplikasikan pada metode pembelajaran kolaboratif, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar. Share juga artikel ini ke guru-guru lainnya.

Sumber artikel : Blog.ruangguru.com
Sumber gambar :  http://www.realita.co

Gunakan Tehnik ‘Math Manipulatives’ Pada Pelajaran Matematika Agar Siswa Lebih Antusias dalam belajar


Pelajaran Matematika kadang kala menjadi suatu hal yang mengerikan bagi siswa. Padahal, Matematika merupakan ilmu dasar yang dapat membantu siswa dalam memahami banyak pelajaran lainnya di kemudian hari.
Gunakan Tehnik ‘Math Manipulatives’ Pada Pelajaran Matematika Agar Siswa Lebih Antusias dalam belajar
gambar : http://www.bintang.com

Sebagai pendidik, guru mengemban tugas yang cukup berat untuk mengubah mindset para siswa mengenai Matematika. Guru-guru harus kreatif dalam menyampaikan pelajaran tersebut.

Dilansir dari laman RuangGuru.com, Salah satu cara dalam melakukan pembelajaran matematika adalah dengan menggunakan alat peraga. Simak penjelasan berikut untuk mengetahui cara penggunaan alat peraga dalam pelajaran Matematika yang juga dikenal sebagai math manipulatives.

Dadu yang digunakan untuk pelajaran Matematika bukanlah dadu biasa. Terdapat dua buah dadu di mana dadu pertama bertuliskan angka 1-6, sedangkan dadu kedua bertuliskan angka 7-12. Ada banyak permainan menarik yang bisa dilakukan dengan alat peraga yang satu ini.

Berikut ini adalah contoh-contoh penggunaannya.

Mempelajari nilai tempat bilangan


Berikan beberapa dadu kepada siswa. Kemudian, instruksikan siswa untuk melempar semua dadu secara bersamaan. Setelah itu, angka-angka yang keluar dari setiap lemparan ditulis di secarik kertas. Siswa dapat mengatur urutannya sesuai dengan keinginan mereka. Sebagai contoh, angka yang keluar dari 4 buah dadu adalah 5, 12, 8, dan 3. Siswa dapat menuliskannya sebagai 51283, 35812, atau kombinasi lainnya. Ajarkan siswa bilangan mana yang merupakan satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya. Jika siswa sudah paham, biarkan mereka menebak sendiri nilai tempat dari bilangan yang mereka tulis.

baca juga :
> Tehnik Kreatif dalam mendidik Siswa Lewat Permainan Tradisional

Cepat tepat penjumlahan


Kali ini siswa akan diajak berkompetisi. Pertama-tama bagi siswa menjadi dua kelompok. Berikan dadu bertuliskan 1-6 kepada salah satu tim dan dadu yang bertuliskan 7-12 pada tim lainnya. Masing-masing tim kemudian melempar dadu. Tim yang paling cepat dan tepat dalam menjumlahkan kedua angka yang keluar akan mendapatkan poin. Tentunya tim dengan poin terbanyak akan memenangkan kompetisi ini. jadi tinggal Siapkan reward yang menarik untuk para siswa.

Ada berbagai permainan Matematika yang dapat dilakukan dengan bantuan domino, lho. Alat peraga yang satu ini mudah didapatkan dan sangat ekonomis. Bahkan, tidak sulit juga jika seorang guru ingin membuatnya sendiri. Ini dia beberapa permainan yang bisa dilakukan menggunakan domino.

Mempelajari pecahan


Setiap lembar domino terdiri atas dua angka. Anggap salah satu angka sebagai pembilang dan angka lainnya adalah penyebut. Ajak para siswa untuk melakukan penjumlahan atau pengurangan dari dua lembar domino. Berikan apresiasi bagi siswa yang berhasil memecahkan soal pecahan dengan mengizinkan mereka bermain domino usai jam pelajaran.

Mengenal bilangan


Apabila seorang guru mengajar siswa di TK, permainan sebelumnya tentu tidak dapat diaplikasikan. Namun, jangan khawatir. Permainan yang satu ini bisa diterapkan. Siswa dapat mengenal bilangan dengan menghitung jumlah titik yang terdapat pada kartu domino. Mereka juga bisa diperkenalkan tentang besar dari suatu bilangan. Misalnya, 8 lebih besar dari 5 dan lain-lain. Caranya adalah dengan meletakkan kartu domino dalam keadaan terbalik. Lalu, seorang siswa mengambil satu kartu. Ia harus mengucapkan jumlah titik di dalam kartu tersebut. Kemudian, siswa berikutnya melakukan hal yang sama. Namun, ia juga harus meletakkan kartu tersebut secara berurutan dari yang paling kecil ke yang paling besar.

Meskipun kini sudah ada jam dalam bentuk digital, kemampuan membaca jam analog tetaplah penting. Selain untuk belajar membaca jam, alat peraga ini dapat digunakan untuk mempelajari hal lainnya, lho. Berikut ini adalah contoh-contohnya.

Melatih kemampuan membaca jam


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jam analog tentunya berfungsi untuk mengajarkan siswa cara membaca jam. Guru dapat memutar jarum jam dengan sesuka hati dan membiarkan siswa mencoba memahami waktu telah menunjukkan pukul berapa. Jangan lupa juga untuk ajarkan pelafalan waktu dalam 15 menit sebagai satu perempat dan 30 menit sebagai setengah.

Mempelajari penjumlahan dan pengurangan


Jam analog juga bisa digunakan untuk membantu siswa memahami penjumlahan dan pengurangan. Siswa dapat menggerakkan jarum jam sesuai dengan angka dan bilangan penjumlahnya. Misalnya, 3 ditambah 5. Siswa pertama-tama memutar jarum panjang dan jarum pendek ke angka 3. Selanjutnya, jarum pendek dibiarkan pada angka 3 sedangkan jarum panjang kembali diputar. Dalam gerakan putarnya, jarum panjang tersebut harus melewati 5 angka. Dengan demikian, jawabannya adalah angka 8. Meskipun terbatas, cara ini cukup efektif untuk mengajarkan penjumlahan atau pengurangan bilangan-bilangan kecil.

Transaksi jual beli adalah kegiatan yang akan ditemukan sehari-hari. Oleh sebab itu, setiap orang harus mahir dalam melakukan perhitungan uang. Dalam menjalankan aktivitas ini, seorang guru tidak perlu menggunakan uang asli. Gunakan saja uang mainan atau bahkan kertas yang dituliskan dengan nominal uang. Jangan lupa juga untuk menyediakan uang dalam bentuk kertas dan koin.

Link terkait pembelajaran :
> Metode Inovatif yang baik dicontoh dalam Mengajar Ala Dragon Zakura
Strategi Kreatif dalam Memacu Partisipasi Siswa di Kelas

Mempelajari perhitungan uang


Hampir semua siswa menyukai permainan roleplay. Kali ini, sebagian dari mereka ada yang harus berpura-pura menjadi pembeli dan ada pula yang harus menjadi kasir. Siapkan juga beberapa barang yang sudah dilabeli dengan harga. Para pembeli bebas mengambil barang mana saja, yang penting harganya tidak melebihi jumlah uang yang mereka miliki. Jadi, siswa yang menjadi pembeli tetap harus berhitung agar tidak kelebihan dalam berbelanja. Tugas kasir nantinya tentu menghitung harga belanjaan para pembeli serta menghitung berapa jumlah kembalian yang harus diberikan.

Mempelajari konsep uang


Selain perhitungan uang, konsep mengenai uang juga penting untuk diajarkan kepada siswa. Mulai dari jenis-jenis uang, nilai nominal dan nilai intrinsik uang, dan lain-lain. Dengan adanya uang dalam bentuk nyata, tentu penjelasan tersebut akan lebih menarik.

Penjelasan diatas merupakan alat-alat peraga yang dapat digunakan untuk mengajar matematika beserta dengan contoh-contoh permainannya. Semoga bermanfaat, ya! Jika Anda memiliki ide lainnya, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar. Bagikan juga artikel ini ke rekan-rekan sejawat Anda.

sumber artikel : ruangguru.com
sumber gambar : http://www.bintang.com

GuruSD.id

{picture#https://2.bp.blogspot.com/-IsySBY1ok4k/WM7C2LsvSxI/AAAAAAAAAXY/V5AmVZDFf94ykH2LhjzfJhrGLOamgUVZgCLcB/s200/Logo%2BOSIS%2BSD%2B-%2BCopy.png} GuruSD.id Mendidik Generasi Penerus Bangsa "Cerdas Berkualitas" {facebook#https://facebook.com} {twitter#https://twitter.com} {google#https://plus.google.com} {youtube#https://youtube.com}

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.