Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Guru dalam Mendidik, Tanpa Sadar Memberikan Label Buruk Pada Siswa

Kesalahan Guru dalam Mendidik: Tanpa Sadar Memberikan Label Buruk Pada Siswa

Kesalahan Guru dalam Mendidik, Tanpa Sadar Memberikan Label Buruk Pada Siswa
Labeling mempengaruhi Perilaku Siswa 


Gurusd.id - Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan Guru kepada Siswa adalah memberi label atau cap buruk kepada Siswa. Karena dengan memberi label, Siswa anda telah mencap dirinya sebagai Siswa yang sesuai dengan label yang diberikan.


Mengacu pada sebuah definisi, label adalah suatu kata atau kalimat yang ditujukan untuk menggambarkan tentang keadaan seseorang terkait dengan perilaku, keadaan fisik atau keadaan intelektual.


Di kehidupan sosial kita memberikan labeling merupakan hal yang dianggap wajar. Masyarakat sudah terbiasa untuk memberikan label pada seseorang, tanpa memahami kondisi orang atau Siswa seutuhnya.


PANGGILAN BURUK YANG MENGARAH KE BENTUK FISIK ADALAH LABELING YANG TANPA SADAR TELAH DILAKUKAN GURU


Kata-kata labeling pada Siswa seperti, “Dasar kamu Siswa pemalas”, atau “Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok”, atau “Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?”


Bentuk labeling yang tanpa sadar yang telah dilakukan oleh Guru adalah memberikan julukan atau panggilan buruk yang mengarah ke bentuk fisik. misalnya sebutan “gemuk”, “chubby”, atau “tembam” yang dianggap lucu dan menggemaskan oleh para Guru ternyata dapat menciptakan body image yang negatif.


Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Sutji Sosrowardojo seperti dikutid dari liputan6.com (1/8/2016) “Labeling sangat buruk efeknya untuk perkembangan Siswa.


Sayangnya, labelling ini terkadang datang dari Guru yang tanpa sadar memanggil Siswanya dengan berbagai kata buruk seperti ‘sini Siswa yang gemuk’.


Pada saat itu dia merasa body image-nya negatif, yang membuatnya merasa jelek, sehingga dapat mengganggu semuanya,”


Sekalipun di usia prasekolah, Siswa belum memahami makna sebenarnya dari kata-kata label itu, namun Siswa bisa merasakan sesuatu yang tak nyaman dengan dilontarkannya label itu.


Siswa seakan-akan tak diterima dengan adanya label itu, ada sesuatu yang ditolak. Jadi, Siswa tak tahu apa itu label baginya. Ia hanya merasakan sebagai sesuatu yang tak mengenakkan, merasa tak nyaman.


BENTUK PROTES SISWA KETIKA DIBERIKAN LABELING


Ketika diberi label, bukan berarti Siswa diam saja. Siswa akan melampiaskan perasaan tak nyaman itu dengan berbagai cara sebagai bentuk protes.


Bentuk protesnya berbeda dengan anak remaja. Jika anak remaja ketika dibilang nakal maka sengaja akan dibuat nakal.


Berbeda dengan balita, dalam bentuk mengompol (padahal sebelumnya anak sudah tak mengompol), mimpi buruk, menangis, menggigit-gigit kuku, menolak mengerjakan sesuatu, dan sebagainya.


HATI-HATI, INI DAMPAK NEGATIF DARI LEBELING


LABEL NEGATIF AKAN MENGUSIK KEPERCAYAAN DIRI, HARGA DIRI DAN KONSEP DIRINYA


Siswa memandang dirinya sebagaimana yang orang lain pikirkan, apalagi jika ia menerima label tersebut dari Gurunya sendiri.


Siswa akan yakin 100% bahwa apa yang disampaikan Guru tentang dirinya adalah benar, sehingga mempengaruhi perilakunya.


Siswa yang diberi label akan merasa ketakutan menjadi bahan ejekan, sehingga lebih cenderung menyendiri, akibatnya ia kurang terampil untuk bersosialisasi dengan orang lain.


“Memberikan label kepada Siswa bisa berbahaya bagi kepercayaan dirinya. Semakin hari jika Guru sering mengatakan hal tersebut, Siswa semakin yakin akan kebenaran kata-kata yang disampaikan Guru,” terang pakar pengasuhan anak usia dini Komunitas Rumah Pencerah, Nurbaeti Rachman


PEMBERIAN LABEL NEGATIF PADA SISWA JUGA AKAN MENGABAIKAN POTENSI YANG ADA PADANYA


Misalnya saja ketika Guru mengatakan “Siswa bodoh”, maka Siswa akan menyesuaikan dirinya dengan label tersebut sehingga tidak memiliki motivasi mengeksplorasi kemampuannya yang lain seperti kreativitasnya.


sumber: https://sayangianak.com/kesalahan-orangtua-dalam-mendidik-anak-tanpa-sadar-memberikan-lebel-pada-anak