Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Mengapa Nilai Ujian Anak Jelek Meski Sudah Belajar? Berikut 9 Penyebabnya

9 Alasan Anak dapat Nilai Jelek saat Ujian, Meski Sudah Giat Belajar

9 Alasan Anak dapat Nilai Jelek saat Ujian, Meski Sudah Giat Belajar
Nilai Ujian Siswa Rendah photo: istockphoto


Gurusd.id - Setiap orangtua tentu ingin memiliki anak yang berhasil dalam bidang akademiknya. Ibu Bapak mungkin tahu bahwa anak belajar dengan giat dan mempersiapkan ujiannya dengan baik. Namun, saat dibagikan nilai ujian, Ibu Bapak melihat nilai anak yang jelek atau dibawah standar. Lantas apa yang sedang terjadi?


Mungkin terdengar aneh, tetapi belajar dengan giat tidak secara otomatis berarti anak akan mendapatkan nilai yang bagus. Belajar hanya salah satu bagian dari persiapan ujian.


Belajar secara efektif memang kunci nyata untuk mendapatkan nilai yang sukses. Namun ada beberapa bagian yang mungkin Ibu Bapak lewatkan.


Untuk mencari tahu masalah belajar apa yang anak alami dan bagaimana mengatasinya, berikut gurusd.id telah merangkum alasan anak dapat nilai jelek saat ujian, meski giat belajar.


Yuk simak!


1. Anak berjuang dengan kecemasan pada saat ujian


Tak sedikit anak yang merasa gugup saat ujian, mulai dari memikirkan pertanyaan apa saja yang keluar hingga takut mengecewakan atau dimarahi orangtua bila mendapatkan nilai yang buruk.


Masalahnya ketika ini terjadi, anak mungkin berjuang dengan kecemasan ujian. Perasaannya yang gugup ini justru bisa membuat pikirannya menjadi kosong saat ujian.


Tentu ini membuat anak sulit untuk mengingat apa yang telah ia pelajari sebelumnya, dan berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan di depannya.


Jika anak sudah belajar dan mengetahui materinya, ingatkan agar ia bersantai di hari ujian. Ibu Bapak dapat mengatakan kalimat positif sebelum anak ujian, seperti “Kamu telah belajar untuk ini, kamu tahu materinya”.


Ingatkan anak juga untuk berlatih menarik napas dalam-dalam saat akan mulai mengerjakan ujian.


2. Anak belajar untuk menghafal, bukan untuk memahami materi


Menghafal dan memahami materi tentu dua hal yang berbeda. Ketika anak menghafal materi, ia belum tentu memahami isi materi tersebut.


Anak hanya berusaha untuk mengingat kata demi kata dalam sebuah kalimat agar memudahkannya mengisi lembar ujian. Namun ketika anak tidak memahami isi materinya, ini yang menjadi masalah.


Solusinya, penting untuk tidak hanya menghafal materi, namun anak perlu memahaminya. Bantu anak untuk belajar bagaimana materi yang diulas terhubung dengan topik dan ide lain.


Ini akan memberikan anak pemahaman yang lebih dalam dan lebih lengkap tentang apa yang ia pelajari, daripada hanya sekadar menghafalnya.


3. Anak tidak belajar cukup awal, dan suka menunda-nunda


Menunda-nunda waktu belajar, apakah anak Ibu Bapak juga sering melakukannya? 


Menunda waktu belajar membuat anak tidak menyisakan waktu yang cukup untuk menyerap materi sebelum hari ujian.


Akhirnya ia berjuang dengan sistem belajar kebut semalam, dan berusaha memahami banyak materi dalam satu waktu, yang mungkin ini hanya menyebabkan kelelahan dan waktu belajar yang tidak efektif.


Solusinya, penting untuk mengatur rutinitas yang melibatkan peninjauan catatan belajar secara teratur. Setiap malam, pastikan anak Ibu Bapak meluangkan beberapa menit untuk membaca catatan yang telah dipelajarinya di kelas.


Tinjauan berkelanjutan ini akan membantu memastikan anak mengingat materi dalam jangka panjang.


4. Begadang sebelum ujian


Tak dapat dimungkiri, banyak anak-anak yang senang begadang, meskipun sebelum ujian. Waktu belajar di rumah terkadang menyita waktu anak untuk melakukan kegiatan menyenangkan.


Sehingga setelah belajar, bukannya tidur anak justru menggunakan waktunya untuk bermain game atau menyaksikan drama.


Dilansir dari Oxford Learning, tidur adalah ketika materi dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang, jadi tidur nyenyak sebelum ujian lebih efektif daripada begadang semalaman.


Ketika anak akan menghadapi ujian harian atau sedang berada di minggu ujian, pastikan ia memiliki jadwal kapan harus bermain dan kapan harus belajar. Bantu anak untuk menetapkan mana yang menjadi prioritas.


Lalu mulailah belajar setidaknya tiga hari sebelum ujian, agar menghindari belajar larut malam di menit-menit terakhir.


5. Terlalu banyak belajar hingga lupa istirahat


Selama waktu ujian, beberapa anak memilih belajar berjam-jam tanpa istirahat dengan tujuan untuk menyelesaikan waktu belajar lebih cepat. Tetapi menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar, tidak berarti anak memahami materi dengan lebih baik.


Alih-alih belajar dalam satu waktu yang besar, Ibu Bapak dapat mengajarkan anak untuk menggunakan metode studi jarak.


Metode ini berarti anak perlu belajar untuk jumlah waktu yang ditentukan dengan interval waktu antara setiap sesi.


Misalnya, jika Ibu Bapak menentukan anak belajar lima jam satu hari, cobalah untuk membagi waktu dengan 2 jam-2 jam-dan 1 jam, dengan waktu istirahat 30 atau 40 menit.


Ini akan membantu otak anak menyerap dan menyimpan materi dengan lebih efektif.


6. Tidak memiliki rencana atau tujuan belajar


Ketika anak tidak memiliki rencana untuk memandu sesi belajarnya, ini akan sulit untuk mengetahui apa yang harus difokuskan pada saat belajar.


Solusinya, bantu anak untuk menetapkan tujuan untuk setiap sesi belajar, seperti materi apa saja yang ingin dipelajari.


Ini akan membantu anak melacak kemajuannya dan membuat Ibu Bapak menjadi tahu area mana yang masih perlu anak tinjau, atau membutuhkan bantuan ekstra.


7. Kurangnya catatan belajar


Sesi belajar anak mungkin berjalan dengan baik dan lancar. Tetapi ini akan berubah ketika ia duduk untuk mengerjakan tes, dan ia melihat banyak pertanyaan yang tidak dipelajari anak sebelumnya.


Ini bisa terjadi ketika anak tidak membuat catatan belajar yang teratur dan efektif, sehingga ada beberapa materi yang terlewat.


Penting untuk mengingatkan anak agar selalu memerhatikan baik-baik di kelas. Dengarkan hal-hal penting yang dikatakan gurunya, terutama jika guru mengulangi sesuatu.


Sorot poin-poin ini dalam catatan dengan spidol berwarna, sehingga anak tahu bahwa itu adalah poin penting yang harus dipelajari saat ujian.


8. Anak hanya belajar pada saat ujian


Bukan rahasia umum lagi bahwa banyak anak yang hanya belajar, ketika ia sedang mempersiapkan ujian yang akan datang. Seperti yang disebutkan di atas, belajar dalam satu waktu sebelum ujian, bukan hal yang efektif.


Sehingga anak harus bisa memanfaatkan kesempatan belajar seperti dalam diskusi kelas, belajar kelompok, dan tinjau catatan pelajaran saat di rumah.


Belajar sedikit setiap hari memudahkan untuk mempelajari (dan mengingat) materi. Sehingga memberikan anak awal yang baik dalam hal waktu ujian.


9. Anak menggunakan metode pembelajaran yang salah


Belajar tak hanya sekadar membaca buku saja lho!


Ada beberapa metode belajar, sehingga anak harus tahu metode belajar apa yang paling sesuai untuknya. Misalnya, anak adalah tipe pembelajar auditori. Ia belajar paling baik dengan mendengar, bukan menulis catatan.


Sehingga solusinya adalah, menemukan gaya belajar mana yang paling cocok untuk anak. Caranya dengan mencoba setiap metode belajar yang berbeda. 


Berikut beberapa metode pembelajaran yang bisa anak coba:


Pembelajar auditori: membaca catatan dengan keras saat meninjau materi

Pembelajar visual: visualisasikan materi dengan mindmap atau gunakan elemen visual seperti warna/grafik/bagan.

Pembelajar baca/tulis: Baca catatan kelas dan tulis catatan belajar baru untuk ditinjau

Pembelajar kinestetik (langsung): Membuat kegiatan belajar dalam sebuah praktek, seperti melakukan eksperimen sains

Nah itulah alasan anak dapat nilai jelek saat ujian, meski giat belajar. Apakah Ibu Bapak telah menemukan letak masalah yang menyebabkan nilai ujian anak tidak sesuai harapan? Jika sudah, pastikan untuk menerapkan solusinya dengan baik dan konsisten ya!


Agar anak bisa menemukan cara belajar yang tepat dan meningkatkan prestasinya di sekolah. Selamat belajar!


sumber: popmama.com