Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Pada Anak Usia SD

Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Pada Anak Usia SD

Anak Usia SD dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Matematika SD


Anak Usia SD dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Gurusd.id - Kita mengetahui bahwa dalam perkembangannya seorang anak berbeda dengan orang dewasa. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas baik itu dalam bentuk fisik maupun dari cara berpikir, bertindak, kebiasaan, hobi, kerja, keinginan, tanggung jawab dan sebagainya.


Tetapi banyak orang dewasa bahkan pendidik/guru yang masih beranggapan bahwa seorang siswa atau anak dapat berpikir dan bertindak seperti orang dewasa. 


Pada saat ini masih ada guru yang memberikan konsep-konsep matematika sesuai jalan pikirannya, tanpa memperhatikan bahwa jalan pikiran siswa berbeda dengan jalan pikiran orang dewasa dalam memahami konsep-konsep matematika yang abstrak.


Sesuatu yang dianggap mudah menurut logika orang dewasa dapat dianggap sulit dimengerti oleh seorang anak.


Anak tidak berpikir dan bertindak sama seperti orang dewasa. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika di SD, konsep matematika yang abstrak yang dianggap mudah dan sederhana menurut kita yang cara berpikirnya sudah formal, dapat menjadi hal yang sulit dimengerti oleh anak.


Selain itu setiap anak merupakan individu yang berbeda. Perbedaan pada tiap individu dapat dilihat dari minat, bakat, kemampuan kepribadian, pengalaman lingkungan,dll.


Karena itu seorang guru dalam proses pembelajaran matematika hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan karakterisitik anak didik tersebut.


Anak usia SD adalah anak yang berada pada usia sekitar 7 sampai 12 tahun. Menurut Piaget anak usia sekitar ini masih berpikir pada tahap operasi konkrit artinya siswa siswa SD belum berpikir formal. 


Ciri-ciri anak-anak pada tahap ini antara lain:

  • Dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit, 
  • Belum dapat berpikir deduktif, dan
  • Berpikir secara transitif.


Contoh : 2 + 2 = 4, 4 + 2 = 6, 6 + 2 = 8, 8 +2 = 10, 10 + 2 = 12.  Proses ini sudah dapat dipahami oleh siswa


Sebagaimana kita ketahui, matematika adalah ilmu deduktif, formal, hierarki dan menggunakan bahasa simbol yang memiliki arti yang padat.


Karena adanya perbedaan karakteristik antara matematika dan anak usia SD, maka matematika akan sulit dipahami oleh anak SD jika diajarkan tanpa memperhatikan tahap berpkir anak SD.


Seorang guru hendaknya mempunyai kemampuan untuk menghubungkan antara dunia anak yang belum dapat berpikir secara deduktif agar dapat mengerti matematika yang bersifat deduktif.


Matematika merupakan ilmu yang abstrak maka untuk memberikan pemahaman konsep yang abstrak perlu menggunakan alat peraga.


Matematika juga dapat mengubah pola pikir seseorang menjadi pola pikir yang matematiks, sistimatis, logis, kritis dan cermat.


Tetapi sistim matematika ini tidak sejalan dengan tahap perkembangan mental anak, sehingga yang dianggap logis dan jelas oleh orang dewasa pada matematika, masih merupakan hal yang tidak masuk akal dan menyulitkan bagi anak.


Faktor-faktor lain yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran matematika, selain bahwa tahap perkembangan berpikir siswa SD belum formal atau masih konkrit adalah adanya keanekaragaman intelegensi siswa SD serta jumlah siswa SD yang cukup banyak dibandingkan guru yang mengajar matematika.


Matematika yang dipelajari oleh siswa SD dapat digunakan oleh siswa SD untuk membantu memecahkan masalah hidupnya sehari-hari, untuk membentuk pola pikir yang logis, sistimatis, kritis dan cermat dan akhirnya dapat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain.